perempuan kembali ke dunia kerja - perempuandaya.com

Perempuan Bekerja: Menyapa Kembali Dunia Kerja, Tanpa Terkejar Waktu

Bagi kebanyakan perempuan bekerja, kembali ke dunia kerja setelah lama vakum itu nggak segampang nyalain laptop—apalagi kalau sudah nyaman sama ritme rumah. Tapi, itulah yang dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga bernama Dera Budiarti, yang memutuskan untuk kembali bekerja setelah beberapa tahun vakum. 

Dalam obrolan santai, dia berbagi perjalanan penuh tantangan, tapi juga penuh harapan. Dia bercerita tentang perjalanannya bisa menemukan ritme baru tanpa merasa tertekan untuk ‘terburu-buru’ seperti dulu. Bagi kamu yang mungkin sedang mempertimbangkan untuk melangkah kembali ke dunia kerja, atau merasa cemas tentang perubahan ini, cerita dia bisa jadi pengingat bahwa setiap perjalanan punya waktunya sendiri. Yuk, simak kisah lengkapnya!

Apa sih yang bikin kamu akhirnya memutuskan untuk kembali menjadi perempuan bekerja setelah sekian lama fokus 100% mengurus suami dan anak-anak? Ada nggak momen yang bikin kamu akhirnya mikir untuk kembali bekerja lagi?

Jadi, motivasi aku untuk kembali menjadi perempuan bekerja sih lebih ke pengen ngerasa produktif lagi dan ngelanjutin hal-hal yang dulu sempat aku tunda. Setelah beberapa tahun fokus di rumah dan ngurus anak-anak, rasanya mereka udah mulai cukup mandiri, jadi akhirnya ada ruang buat aku untuk kembali bekerja. Bukan cuma buat tambahan penghasilan, tapi lebih ke aktualisasi diri. Aku pengen nunjukin ke anak-anak kalau ibu juga bisa terus berkembang. Karena buat aku, kerja itu bukan cuma soal duit, tapi juga cara buat terus tumbuh, belajar, dan jadi contoh buat anak-anakku. Kayak kata pepatah, “Monkey see, monkey do,” aku pengen anak-anak lihat ibunya nggak pernah berhenti mengejar impian, meskipun udah jadi ibu dan punya banyak peran.

Gimana rasanya transisi yang tadinya menjadi ibu rumah tangga secara penuh lalu akhirnya menjadi wanita yang kembali bekerja? Apa tantangan terbesar yang kamu rasain?

Perempuan bekerja kembali ke dunia kerja

Transisi dari ibu rumah tangga lalu kembali bekerja itu nggak gampang, sih. Dunia kerja sekarang udah jauh beda, mulai dari sistemnya, budaya kerjanya, bahkan teknologi yang dipakai—semuanya berkembang pesat banget dibanding waktu aku masih aktif kerja dulu. Awalnya sempat ngerasa ketinggalan, tapi justru itu jadi dorongan buat terus belajar dan ngikutin perkembangan biar nggak jadi “pendatang baru” terus. Tantangan terbesar? Menyesuaikan diri dengan ritme baru dan ngerasa percaya diri di antara rekan kerja yang lebih muda dan lebih update.

Gimana caramu bagi waktu antara kerja dan keluarga?

Kantor aku deket banget dari rumah, jadi nggak terlalu ribet ngatur waktu antara kerjaan dan keluarga. Bisa pulang cepet, nggak ada alasan buat nggak balance!

Gimana caranya kamu jaga keseimbangan antara menjadi ibu bekerja, lalu switching lagi untuk mengurus rumah, dan waktu buat diri sendiri?

Kuncinya sih skala prioritas. Di kantor ya kerja beneran—bukan mikirin cucian. Di rumah, tutup laptop, hadir utuh buat keluarga. Terus aku sisihin me-time: minimal 30 menit gerak badan, biar kepala tetap waras dan badan nggak gampang tumbang. Nggak perlu heboh, yang penting konsisten.

Sebagai perempuan bekerja, tantangan terbesarmu apa, sih—apalagi kalau orang ngira kamu breadwinner?

Buat aku, posisi sekarang bukan breadwinner, sih. kembali bekerja lebih ke pengin aktualisasi diri—biar otak nggak karatan dan rasanya tetap produktif. Simple aja.

Kalau ketemu teman yang lagi galau buat kembali bekerja, kamu bakal bilang apa—singkat aja, yang real.

Soal stigma atau ekspektasi orang, jujur nggak terlalu dipikirin. Selama yang dijalanin baik, ritmenya cocok, dan keluarga support, ya gas terus. Komentar orang mah lewat aja—yang penting rumah aman, hati tenang, kerjaan jalan.

Gimanapun pilihannya—kembali bekerja atau stay di jalur sekarang—pastikan itu maumu, bukan karena “lagi tren” atau FOMO. Pace tiap perempuan beda; nggak perlu sprint kalau lagi nyaman slow living. Yang penting, ngobrol dan minta restu suami serta keluarga—dukungan mereka tuh bensin yang bikin langkah jadi lebih ringan.

Kuncinya adalah berusaha dan berdoa. Jangan malas untuk upgrade ilmu—bisa dengan cara ikut webinar-webinar gratis biar at least kita tetap catch up dengan perkembangan di bidang keahlian kita. Manifesting tiap hari juga penting. Jangan lupa percaya kalau someday pasti bisa dapat kerja yang sesuai dengan yang kita mau. Dulu, salah satu cara manifesting saya adalah dengan dengerin lagu Hall of Fame dari The Script, biar semangat terus apply-apply kerjaan.

Yang bikin kamu tetap jalan—meski pelan—itu siapa ?

Tips kembali bekerja untuk perempuan

Kalau ditanya siapa yang jadi bensin semangat, jawabannya gampang: anak-anak. Aku pengin mereka lihat ibunya tetap aktif, produktif, terus belajar—ya pelan-pelan saja, tapi jalan. Kembali bekerja bukan buat ngejar gelar “supermom”, cuma mau kasih contoh kalau jadi ibu itu nggak bikin mimpi jadi berhenti. Justru dari mereka aku dapat dorongan buat upgrade diri, biar nanti mereka juga berani ngejar mimpi dengan kepala dingin dan tanggung jawab.

Epilog:

Kadang, langkah kecil untuk mulai lagi justru jadi awal dari versi terbaik diri kita. Karena buat perempuan bekerja, nggak ada kata “terlambat”, yang ada cuma “mulai dari sekarang.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *