Linimasa sosmed kita mungkin masih ramai dengan euforia pascapesta HUT ke-70 Kris Jenner. Siapa yang dalam hari berdoa, mau banget pas usia 70 tahun masih tampak prima seperti Kris?
Ya, mimin sempat membatin – keren banget sih dokter bedahnya. Tapi anyway, kalau diingat-ingat sesungguhnya hidup glamor Kris Jenner tentu bukan berarti tanpa masalah. Masih teringat wajahnya yang sayu dan kehancuran dalam hidupnya ketika Bruce Jenner memutuskan bertransformasi menjadi wanita, meninggalkan rumah dan keluarganya. Bahkan ketika Kris menawarkan, apakah ada sesuatu yang ingin dia bawa, barangkali selembar foto pernikahan mereka dulu sekadar untuk kenang-kenangan, mantan suami dengan santai menolak. Bruce Jenner sudah tidak ada, digantikan Caitlyn. Dan Kris pun mencurahkan perasaannya yang hancur – ia merasa ditinggalkan dan bagi sang mantan suami, pernikahan puluhan tahun yang pernah mereka jalani seakan tidak cukup berharga untuk sekadar dikenang. Dan setelah pengadilan Amerika Serikat menetapkan resmi identitas baru Bruce sebagai Caitlyn, dan media mengelu-elukan perubahan gendernya. Kris menjadi janda dari “mantan suami” yang identitasnya seakan tidak pernah eksis.

Maka, banyak yang mengapresiasi keputusan Kris untuk melakukan aksi “self-love” berupa upgrade fisik jor-joran. Didukung sumber daya yang nyaris unlimited, tentu Kris sukses tampil seperti saudara dari anak-anak perempuannya, ketimbang nenek 70 tahun dengan banyak cucu. Tapi, apa kita harus jadi seperti Kris Jenner untuk dianggap ‘berhasil’ sebagai ibu?
Momager Itu Apa, Sih? Beyond the Glitz and Glamour
Sebelum jauh, kita definisikan dulu ya. Momager itu portmanteau dari ‘mom’ dan ‘manager’. Intinya, seorang ibu yang sekaligus jadi manajer untuk karier anak-anaknya. Kris Jenner adalah contoh nyatanya; dari balik layar, dia membangun empire Keluarga Kardashian-Jenner yang fenomenal.
Tapi, jangan salah. Pada dasarnya, setiap ibu itu adalah seorang momager. Iya, serius! Coba deh lihat keseharian kita. Siapa yang ngatur keuangan rumah, jadwal sekolah anak, janji dokter, menu makan seminggu, sampe urusan beliin hadiah untuk acara keluarga? Kita semua! Kita adalah CEO dari rumah tangga kita sendiri. Anak-anak kita mungkin bukan selebgram yang punya jadwal syuting, tapi mereka adalah ‘klien’ utama kita yang butuh diatur jadwal les, tugas sekolah, dan waktu bermainnya dengan baik.

Ambil Ilmunya: 3 Hal Positif yang Bisa Kita Tiru dari seorang Momager
Nggak semua dari konsep momager itu buruk. Ada sisi baik yang bisa kita ambil, lho!
- Visioner dan Supportive: Seperti seorang momager yang melihat potensi, kita juga bisa. Lihat bakat alami anak perempuan kita. Dia suka menari? Ajak dia ngobrol serius, dukung lesnya, dan cari panggung kecil untuk dia tampil. Intinya, jadi cheerleader terbesar mereka, bukan manager yang memaksa.
- Jago Negosiasi dan Berani Ambil Peluang: Kris Jenner jago banget nawarin konsep reality show-nya. Kita bisa mencontoh jiwa enterprenenur ini. Misal, anak kita jago gambar, kita bisa bantu nawarin jasa ilustrasinya ke teman atau bantu buka commission lewat media sosial. Ajari mereka nilai uang dan kerja keras, dengan cara yang fun.
- Keluarga adalah Tim: Pesta ultah Kris yang megah itu menunjukkan betapa solidnya mereka sebagai ‘brand’. Di keluarga kita, kita bisa bangun semangat ‘tim’ yang saling mendukung. Saling mensupport cita-cita, bukan saling membanding-bandingkan.
Hati-hati! Garis Tipis antara Momager yang Supportive dan ‘Toxic’
Nah, ini nih yang penting banget. Terkadang, obsesi jadi momager yang sukses bisa bikin kita lupa.
- Jangan Samakan Kesuksesanmu dengan Kesuksesan Anak: Kadang, tanpa sadar, kita memproyeksikan ambisi pribadi yang belum kesampaian ke anak. “Dulu Mama nggak jadi dokter, kamu harus jadi dokter.” Stop right there. Tanya diri sendiri, “Ini untuk siapa? Untuk kebahagiaan anak, atau untuk gengsi kita sebagai seorang momager?”
- Anak Bukan Proyek atau Produk: Mereka manusia dengan perasaan dan keinginan sendiri. Coba deh tanya ke anak perempuan kita, “Kamu beneran senang nggak ikut lomba itu?” atau “Kamu capek nggak jadwalnya segini padat?” Dengarkan jawabannya, bukan langsung anggap dia tidak bersyukur.
- Jangan Lupa, Mereka Butuh Jadi Anak-Anak: Dunia momager Kris Jenner penuh dengan bisnis dan branding sejak dini. Tapi di dunia nyata, anak butuh waktu untuk jatuh bangun, main dengan teman, dan belajar dari kesalahan tanpa tekanan untuk langsung ‘menghasilkan’. Masa kecil yang happy adalah investasi terbaik untuk mental health mereka kelak.
Jadi momager ala Kris Jenner itu nggak salah, kok. Yang penting, kita selalu ingat untuk manage impian dan bakat anak dengan bijak, bukan dengan paksaan. Jadilah ‘manager’ yang paling mereka percayai, tempat mereka curhat dan pulang saat gagal. Karena pada akhirnya, kesuksesan terbesar seorang ibu—dan momager—bukanlah saat anaknya terkenal, tapi saat anaknya tumbuh jadi perempuan yang bahagia dan percaya diri, dan kita berhasil menjadi manager of the house yang membuat rumah terasa seperti tempat pulang yang paling nyaman.
Setuju, ga? Share thoughts kamu di kolom komentar ya! Dunia momager Kris Jenner penuh dengan bisnis dan branding sejak dini. Tapi di dunia nyata, anak butuh waktu untuk jatuh bangun, main dengan teman, dan belajar dari kesalahan tanpa tekanan untuk langsung ‘menghasilkan’. Masa kecil yang happy adalah investasi terbaik untuk mental health mereka kelak.

