Agak Laen 2

Dari “Pria Kuat” ke “Pria Utuh”: Cara ‘AGAK LAEN’ Memperkenalkan Sosok Pria Berdaya

Saya, seperti banyak perempuan lain di Indonesia, dibesarkan dalam narasi, “Lebih baik seorang perempuan menangis di mobil lelaki kaya daripada di angkutan umum.” Laki-laki, dalam narasi yang saya serap, harus menjadi provider dan pemimpin. Tangis adalah aib, kerentanan adalah kelemahan, dan nilai seorang lelaki sering disederhanakan pada materi, kekuasaan, dan ketangguhan tanpa celah. Dunia sinema pun kerap memperkuat stereotip ini. Lalu, datanglah film AGAK LAEN, yang bukan hanya menghibur dengan kelucuan absurdnya, tetapi secara halus dan cerdas merajut ulang definisi “laki-laki berdaya” yang sesungguhnya.

Sejak film pertama, AGAK LAEN telah memesona dengan all-male lead cast yang justru tidak menjadi sosok super atau jagoan tanpa cela. Mereka adalah Boris, Oki, Bene, dan Jegel—empat “underdog” yang berantakan namun manusiawi. 

1. Boys Do Cry: Air Mata Bukanlah Musuh Pria

Jika di film pertama kita melihat Oki menangis penuh penyesalan akan perbuatannya yang mencari untung, di sekuel ini ada Boris yang tak kuasa menitikkan air mata di tengah proses perceraiannya dan Ko Acim yang menangis saat mengenang anak perempuannya. Film ini menyampaikan pesan kuat: Seorang pria menangis – for all the right reasons – adalah tanda kecerdasan emosional, bukan kehancuran harga diri. Laki-laki yang berdaya adalah yang mengenali dan mengakui perasaannya, bukan memendamnya sampai jadi bom waktu.

2. Kuasa Kata “Maaf” dan Regulasi Emosi

Hal yang sama berulang di AGAK LAEN 1 dan 2 – karakter utama pria yang meminta maaf. Walau di AGAK LAEN pertama, permintaan maaf Jegel kepada Oki dikemas dalam adegan komikal, namun tetap berdampak nyata pada rekonsiliasi mereka. Di AGAK LAEN 2, Boris meminta maaf dengan kepada anak perempuannya, atas perceraian yang terjadi antara ia dan mantan istri. AGAK LAEN menunjukkan bahwa seorang pria meminta maaf bukanlah tindakan yang merendahkan, melainkan bentuk tanggung jawab dan kedewasaan. Ini adalah fondasi dari hubungan yang sehat, baik dengan sesama lelaki maupun dengan perempuan.

3. Dapur Bukan Wilayah Perempuan Saja

Menggunakan hidangan lezat untuk media diplomasi dalam rumah, sering diidentikkan dengan peran perempuan – lihat saja trope klasik dalam iklan bumbu masakan atau sereal. Namun di AGAK LAEN 2, kita melihat nasi goreng Boris yang menjadi media rekonsiliasinya dengan Jegel.

4. Mendukung Kemajuan Perempuan dalam Lingkaran Terdekat

Kisah Bene yang berjuang agar adik perempuannya bisa lulus kuliah adalah pelajaran besar. Dia tidak merasa terancam dengan potensi adiknya yang mungkin akan lebih “sukses” dari dirinya. Justru, kebanggaan dan upayanya menjadi bukti bahwa laki-laki berdaya tidak mendirikan menara sendiri, tetapi membangun tangga untuk orang di sekitarnya—termasuk perempuan—agar bisa meraih mimpi mereka.

SPOILER ALERT – Happy Ending yang Membebaskan

Screenshot

Dan inilah klimaks dari pesan kesetaraan yang dibawa film ini: Dari polisi menjadi perawat di panti jompo. Pilihan karir baru Boris, Oki, Bene, dan Jegel ini sangat simbolis. Mereka meninggalkan profesi yang secara tradisional dianggap “jantan” dan penuh kuasa, untuk beralih ke profesi yang sering distigma sebagai “pekerjaan perempuan”, kurang bergengsi, namun penuh pelayanan dan kasih sayang—perawat.

Ini bukan downgrade. Ini adalah upgrade kemanusiaan. Mereka menemukan kepuasan sejati bukan dalam wewenang atau gengsi, tetapi dalam merawat, menemani, dan memberikan kenyamanan pada para lansia. Dan mereka diterima dengan hangat. Film ini dengan indah menunjukkan bahwa kebahagiaan dan pemenuhan diri tidak terikat pada stereotip gender pekerjaan. Laki-laki bisa dan boleh menjadi caregiver yang hebat, penuh kasih, dan bangga akan peran itu-meski mungkin tidak meraih kesuksesan finansial sebesar sebelumnya.

AGAK LAEN 1 dan 2 adalah lebih dari sekadar box office yang sukses secara komersial di industri film kita. Ia adalah manifestasi lembut dari revolusi maskulinitas. Laki-laki berdaya yang sesungguhnya bukanlah yang tinggi jabatannya atau paling tebal dompetnya, melainkan yang paling jujur pada perasaannya, paling tulus dalam permintaan maafnya, paling mendukung dalam tindakannya, dan paling bebas dalam memilih jalan hidup—meski jalan itu dianggap “biasanya untuk perempuan”.

Di dunia yang masih sering memaksa laki-laki untuk “tampak kuat”, film ini berbisik lantang: “Jadilah utuh.” Dan dalam keutuhan itu, ruang untuk kesetaraan dengan perempuan tumbuh subur. Karena ketika laki-laki dibebaskan dari beban stereotip, perempuan pun mendapatkan sekutu sejati dalam perjuangan menuju dunia yang lebih adil dan manusiawi.

Seperti seorang teman saya, pria yang berprofesi sebagai guru bela diri, ia mengamini bahwa seorang pria sejatinya harus belajar dari rotan – getas, bukan keras. “Karena yang keras sangat mudah dipatahkan jadi 2, tetapi yang getas akan tetap utuh,” ujarnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *