Resilience dan Ketidakpastian Ekonomi: Menghadapi Dunia yang Tidak Stabil di Usia 33 Tahun

Resilience dan ketidakpastian ekonomi — Sebagai seorang wanita berusia 33 tahun yang punya suami dan dua anak, aku sering banget ngerasa overthinking—terutama soal keuangan. Di satu sisi, aku merasa sangat bersyukur karena punya suami dengan pekerjaan yang stabil, yang bikin kami merasa lebih aman. Tapi di sisi lain, aku nggak bisa hindarin rasa gelisah yang terus datang karena ketidakstabilan pekerjaan yang aku jalani.

Pekerjaanku adalah remote worker full-time. Kadang, proyek yang aku kerjain ada yang stabil, kadang nggak. Beberapa waktu lalu, aku sempat dapet pekerjaan full-time yang memberikan penghasilan bulanan yang lebih pasti. Tapi, kenyataannya, aku dipecat. Ketidakpastian itu datang begitu cepat, dan bikin aku cemas mikirin masa depan.

Aku yakin banyak dari kita, terutama wanita yang usianya seumuran aku, yang ngerasa hal yang sama.

Kita hidup di dunia yang penuh ketidakpastian—terutama soal pekerjaan. Sumber pendapatan yang dulu kelihatan stabil, sekarang bisa aja hilang dalam sekejap. Jadi wanita yang pengen berdiri di atas kaki sendiri dan cari uang buat diri sendiri itu bisa jadi tantangan banget, apalagi di zaman yang ekonomi dan ketidakpastian kayak sekarang. Bukan cuma soal finansial, tapi juga kesehatan mental dan emosional.

Membangun Resilience Saat Merasa Iri terhadap Keberuntungan yang Terlihat Stabil

Kadang, aku ngerasa iri sama suamiku. Bukan karena aku nggak menghargai stabilitasnya—justru aku sangat bersyukur dan sadar kalau keberadaannya itu privilege besar buat keluarga kami. Tapi, ketidakstabilan yang aku alami dalam pekerjaan bikin aku mikir, “Gimana kalau aku bisa punya pekerjaan yang sama stabilnya kayak suami? Mungkin aku nggak bakal terus-terusan khawatir kayak gini.”

Aku tahu perasaan ini pasti nggak cuma aku yang ngerasain. Banyak wanita lain yang juga berjuang untuk karier sambil jaga keluarga, dan kadang merasa kalau kita harus bisa atur semuanya dengan sempurna. Sementara di luar sana, pria seringkali lebih diberi kesempatan untuk bertahan dalam pekerjaan yang stabil tanpa tekanan yang besar. Mungkin ini juga bentuk ketidaksetaraan yang masih banyak kita hadapi.

Menghadapi Ketidakpastian dengan Resilience

Tapi, setelah aku pikir-pikir, aku mulai nyadar kalau ketidakpastian ini nggak harus ngebuat aku kalah. Malah, aku harus bisa belajar menerima dan beradaptasi dengan keadaan ini. Resilience—kemampuan untuk bangkit kembali setelah jatuh—nggak cuma soal kekuatan fisik, tapi juga mental.

Aku mulai liat kalau ketidakstabilan yang aku alami di dunia kerja ini bisa jadi kesempatan buat terus belajar dan berkembang. Aku nggak bisa terus-terusan ngerasa aman dengan hal yang pasti. Di dunia yang terus berubah ini, ketidakpastian itu wajar banget dan kalau aku bisa nghadapinnya, malah bisa jadi kekuatan.

Aku mulai belajar buat lebih fleksibel dalam mencari peluang dan nggak terjebak di zona nyaman. Beberapa kali ngerasa gagal, tapi setiap kali itu juga aku bangkit dan belajar hal baru yang bikin aku jadi lebih kuat dan siap buat tantangan berikutnya.

Menemukan Kedamaian di Tengah Ketidakpastian

Kunci untuk bertahan dalam ketidakpastian ekonomi ini adalah dengan menerima kenyataan kalau hidup itu emang nggak pasti. Aku sadar kalau cari penghasilan yang stabil dan mandiri itu penting, tapi aku juga belajar buat nggak terobsesi banget sama itu. Pekerjaan yang stabil mungkin datang, mungkin nggak. Tapi yang paling penting adalah gimana cara aku ngadepin semua ini dan jaga kesehatan mental, serta hubungan keluarga.

Pas aku mulai menerima ketidakpastian ini, aku jadi merasa lebih damai. Aku nggak lagi terus-terusan khawatir sama masa depan yang nggak pasti, tapi lebih fokus ke hari ini dan gimana caranya menjalani hidup dengan lebih baik. Aku sadar kalau meskipun nggak bisa mengendalikan semuanya, aku bisa mengendalikan gimana aku meresponsnya.

Untuk Semua Wanita yang Berjuang Sendiri di Era Ketidakpastian

Buat aku, tantangan ini nggak cuma soal pekerjaan atau uang. Ini tentang gimana kita sebagai wanita bisa nemuin keseimbangan antara peran kita sebagai ibu, istri, dan individu yang pengen mandiri secara finansial, di tengah dunia yang nggak stabil. Ini soal jadi resilient—tentang gimana cara nemuin kekuatan dalam menghadapi ketidakpastian dan ngeubahnya jadi peluang.

Kita nggak perlu merasa cemas atau iri sama orang lain yang kelihatannya punya hidup lebih stabil. Yang perlu kita lakuin adalah terus maju, belajar dari kegagalan, dan tetap percaya kalau kita bisa beradaptasi. Seiring waktu, ketidakpastian ini mungkin nggak bakal serasa seburuk dulu. Sebaliknya, itu bakal jadi bagian dari perjalanan kita buat jadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih siap ngadepin masa depan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *