Paspor Kuat, Beasiswa Negara, dan Ambisi yang Mulai Dewasa-perempuandaya.com

Paspor Kuat, Beasiswa Negara, dan Ambisi yang Mulai Dewasa

Perempuandaya.com-Ketika “cukup aku saja yang WNI” jadi viral, aku justru bertanya: apakah mengejar beasiswa luar negeri masih jalanku, atau saatnya mengalihkan energi ke generasi berikutnya?

Dunia maya Indonesia lagi ramai membicarakan satu kalimat:

“I know the world seems unfair, tapi cukup aku aja yang WNI. Anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat, WNA itu.”

Kalimat itu meledak bukan karena isinya semata, tapi karena konteksnya.

Karena ia datang dari seseorang yang berangkat ke luar negeri dengan LPDP. Karena publik tahu beasiswa itu berasal dari uang negara. Karena di tengah banyak orang yang masih berjuang mendapatkan akses pendidikan, pernyataan tentang “cukup aku saja yang WNI” terdengar seperti sesuatu yang lebih dari sekadar strategi keluarga.

Ini bukan soal paspor saja. Ini soal simbol.

Secara objektif, memang ada hierarki kekuatan paspor di dunia. Mobilitas global itu nyata. Akses visa, peluang kerja, kemudahan studi—itu semua bagian dari sistem internasional yang tidak sepenuhnya adil.

Tapi publik tidak bereaksi terhadap fakta geopolitik. Publik bereaksi terhadap narasi nilai.

Dan di situlah diskusi ini menjadi emosional.


Ketika Polemik Beasiswa Menjadi Refleksi Pribadi

Aku mengikuti diskusi itu. Bukan untuk ikut marah. Tapi untuk memahami sudut pandang orang-orang.

Dan anehnya, cerita ini terasa dekat sekali.

Aku sudah beberapa kali mencoba apply beasiswa luar negeri. Chevening. Dan belum lolos.

Setiap kali gagal, ada dua suara.

Yang pertama bilang: coba lagi. Kamu hanya belum cukup presisi.

Yang kedua bilang: realistis. Kamu punya dua anak kecil. Energi dan waktu bukan sumber daya tak terbatas.

Suamiku pernah bilang dengan sangat rasional,
“Kenapa nggak kamu develop anak-anak aja? Perjalanan mereka masih panjang.”

Logikanya kuat. Bahkan secara strategi jangka panjang, sulit dibantah.

Tapi di sisi lain, ada bagian dalam diriku yang belum selesai. Ada rasa penasaran yang belum terjawab: sebenarnya aku mampu atau tidak?

Dan ketika aku melihat kasus ini, aku mulai berpikir: mungkin memang ada fase hidup di mana kita harus berhenti “ngoyo”.


Beasiswa: Hak atau Amanah?

LPDP bukan sekadar tiket studi. Ia membawa ekspektasi moral.

Karena dananya publik, maka publik merasa punya hak untuk menilai. Dan itu wajar.

Aku pribadi cenderung berpikir bahwa yang paling align dengan LPDP adalah mereka yang jalur dampaknya jelas dan langsung: dosen, guru, tenaga kesehatan, ASN, bahkan pembuat kebijakan. Profesi-profesi yang setelah pulang bisa langsung mengimplementasikan ilmunya untuk masyarakat luas.

Apakah itu berarti profesi lain tidak layak? Tidak sesederhana itu.

Tapi aku paham kenapa publik sensitif. Karena ketika ada kesan orientasi keluar, bukan kembali, trust menjadi rapuh.

Ini bukan soal benar atau salah. Ini soal persepsi kontribusi.


Ambisi Beasiswa dan Realitas Hidup yang Berubah

Menjelang usia 34, aku mulai menyadari sesuatu.

Tidak semua mimpi harus dikejar dengan intensitas yang sama seperti ketika kita berusia 24.

Dulu, beasiswa luar negeri terasa seperti validasi. Seperti bukti bahwa aku cukup layak. Prestasi yang “wow”.

Sekarang, aku mulai melihatnya sebagai salah satu jalur, bukan satu-satunya definisi keberhasilan.

Apakah aku berhenti mencoba? Mungkin.

Bukan karena takut dinilai seperti kasus yang sedang ramai itu. Bukan karena ambisi hilang. Tapi karena aku mulai menghitung ulang prioritas.

Dua anak kecil bukan detail kecil dalam hidup. Mereka bukan variabel sampingan.

Dan mungkin, peranku saat ini bukan menjadi awardee. Mungkin peranku adalah menjadi arsitek fondasi.


Mewariskan Peta, Bukan Ego

Ada kalimat yang sering disalahpahami: “kita siapkan anak-anak agar bisa melanjutkan.”

Itu terdengar seperti memaksakan mimpi.

Padahal bagiku, itu tentang guidance.

Aku hidup di era banjir informasi. Aku tahu cara kerja beasiswa. Aku tahu bagaimana membangun portfolio, bagaimana menulis personal statement, bagaimana positioning diri agar align dengan visi pemberi beasiswa.

Kalau semua itu bisa aku gunakan untuk membekali anak-anakku sejak dini—literasi, exposure global, kemampuan bahasa, jejaring—itu bukan pemaksaan. Itu pemberian peta.

Anak-anak tetap akan memilih jalannya sendiri.

Tugasku hanya memastikan mereka tidak berjalan tanpa kompas.


Realistis Bukan Berarti Kalah

Usia yang hampir 34 membuatku lebih tenang dalam melihat ambisi.

Aku tidak lagi merasa harus membuktikan apa-apa lewat satu jenis prestasi tertentu.

Kalau suatu hari aku mencoba lagi, itu karena strateginya matang.
Kalau tidak, itu bukan kegagalan. Itu pilihan sadar.

Diskusi tentang paspor mungkin akan terus berulang. Tapi mungkin yang lebih penting bukan paspor kuat atau lemah.

Yang lebih penting adalah fondasi kuat.

Karena pada akhirnya, mobilitas global bukan hanya ditentukan oleh dokumen, tapi oleh kapasitas manusia itu sendiri.

Dan mungkin, dalam fase hidupku sekarang, kontribusiku bukan dengan pergi.

Tapi dengan menyiapkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *