Ijazah atau Ilusi? Membongkar Dampak Gelar Sarjana terhadap Peluang Kerja Perempuan

Bayangkan sudah lulus sarjana dengan penuh perjuangan tapi tetap sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Realitas ini bukan sekedar cerita, melainkan pengalaman nyata para perempuan di dunia kerja pada saat ini.

Dalam beberapa dekade terakhir, akses perempuan terhadap pendidikan tinggi mengalami peningkatan yang signifikan. Gelar sarjana sudah tidak lagi menjadi hal yang eksklusif bagi laki-laki, melainkan telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup banyak perempuan. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah: apakah menjadi sarjana benar-benar menjamin peluang kerja yang lebih baik bagi perempuan?

Pendidikan Sebagai MOdal awal dalam dunia kerja

Secara umum, gelar sarjana memang memberikan keuntungan kompetitif di dunia kerja. Perempuan berpendidikan tinggi cenderung memiliki keterampilan yang lebih spesifik, kemampuan berpikir kritis, serta akses yang lebih luas terhadap informasi dan jaringan profesional. Hal ini membuat mereka lebih siap untuk menghadapi tuntutan dunia kerja yang semakin kompleks. Banyak perusahaan juga menjadikan gelar sarjana sebagai tolak ukur dalam proses rekrutmen, sehingga secara tidak langsung pendidikan tinggi menjadi “tiket masuk” ke berbagai peluang karier

Realitas dunia kerja: ketidaksetaraan yang masih ada

Namun, realitas di lapangan tidak selalu sejalan dengan harapan. Meskipun telah mengantongi gelar sarjana, tidak sedikit perempuan yang masih menghadapi berbagai hambatan dalam memperoleh pekerjaan. Salah satu faktor utama adalah adanya ketidaksetaraan gender yang masih melekat di dunia kerja. Beberapa perusahaan masih memandang perempuan sebagai tenaga kerja yang “berisiko”, terutama terkait dengan peran reproduktif seperti kehamilan dan tanggung jawab lainnya. Masih ada perusahaan yang menghindari untuk mempekerjakan perempuan karena khawatir akan “kehilangan” tenaga kerja saat karyawan tersebut mengambil cuti melahirkan yang relatif lebih lama.

Fenomena overqualified namun kurang terakomodasi

Selain itu, fenomena “overqualified but underemployed” juga kerap dialami oleh perempuan sarjana. Banyak dari mereka yang akhirnya bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan atau bahkan berada di posisi yang tidak membutuhkan gelar sarjana, contohnya lulusan S1 yang akhirnya bekerja sebagai pengemudi ojek online, kasir, bahkan cleaning service, meskipun mereka memiliki kompetensi lebih dari pekerjaan kerah biru. Hal ini menunjukkan bahwa gelar akademik saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan pengalaman kerja, keterampilan praktis, serta kemampuan beradaptasi.

dAMPAK POSITIF PENDIDIKAN TERHADAP PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

Di sisi lain, menjadi sarjana tetap memberikan dampak positif dalam hal pemberdayaan perempuan. Pendidikan tinggi dapat meningkatkan kepercayaan diri, kemandirian ekonomi, serta kemampuan dalam mengambil keputusan. Perempuan yang berpendidikan tinggi cenderung memiliki posisi tawar yang lebih kuat, baik dalam dunia kerja maupun dalam kehidupan sosial.

PERAN SUPPORT SYSTEM DAN PENGEMBANGAN DIRI

Tidak dapat dipungkiri bahwa gelar sarjana tetap memiliki peran penting dalam membuka peluang kerja bagi perempuan. Namun, gelar tersebut bukanlah jaminan mutlak. Dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan perusahaan, untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan adil. Selain itu, perempuan juga perlu terus mengembangkan keterampilan non-akademik seperti komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan digital agar dapat bersaing di era modern.

sARJANA: LANGKAH AWAL BUKAN AKHIR

Kesimpulannya, menjadi sarjana bagi perempuan adalah langkah awal yang penting, tetapi bukan akhir dari perjuangan. Gelar akademik dapat membuka pintu, tetapi yang menentukan keberhasilan adalah bagaimana perempuan tersebut memanfaatkan peluang, mengasah kemampuan, dan menghadapi tantangan yang ada di dunia kerja.

PERSPEKTIF PENELITIAN: KESENJANGAN TERHADAP PEREMPUAN

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa persoalan perempuan di dunia kerja bukan sekadar tentang pendidikan, melainkan juga tentang sistem dan budaya yang masih belum sepenuhnya setara. Sebuah penelitian dalam Jurnal Perempuan menemukan bahwa marginalisasi perempuan di pasar kerja Indonesia masih terjadi meskipun tingkat pendidikan perempuan terus meningkat. Perempuan masih menghadapi kesenjangan upah, peluang kerja yang lebih sempit, hingga hambatan dalam pengembangan karier dibanding laki-laki menurut Indonesian Feminist Journal. (2023). Marginalisasi Perempuan dalam Pasar Kerja Indonesia. Indonesian Feminist Journal, 11(3), 201–214.

Yuk jangan berhenti hanya karena dunia kerja belum sepenuhnya adil. Terus belajar, bangun skill, dan percaya bahwa perempuan berhak memiliki ruang yang sama untuk berkembang. Karena pendidikan bukan sekadar tentang mendapat gelar, tetapi tentang membuka lebih banyak kemungkinan untuk masa depan.

Ditulis oleh: Giovani Anggasta

Lets connect with me on instagram @giovaniianggasta

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *