“Tidak semua pria pandai mengungkapkan perasaan. Sebagian dari mereka hanya pandai berpura-pura baik-baik saja.”
“Aku Gapapa” Tidak Selalu Berarti Baik-Baik Saja
“Gapapa.”
Dua suku kata ini mungkin menjadi jawaban yang paling sering keluar ketika seorang pria ditanya tentang perasaannya. Padahal, di balik kalimat sederhana tersebut bisa saja tersembunyi rasa lelah, kecewa, cemas, bahkan kesedihan yang tidak pernah benar-benar diungkapkan.
Banyak pria tumbuh dengan keyakinan bahwa menunjukkan emosi adalah tanda kelemahan. Akibatnya, mereka lebih memilih memendam perasaan daripada membicarakannya. Sayangnya, kebiasaan ini bukan hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga hubungan dengan pasangan, keluarga, hingga teman.
Lantas, mengapa banyak pria lebih memilih diam daripada bercerita?

Sejak Kecil, Banyak Pria Diajarkan untuk “Jangan Cengeng”
Ungkapan seperti “cowok jangan nangis”, “harus kuat”, atau “jadi laki-laki jangan lembek” mungkin terdengar sepele. Namun, pesan-pesan seperti ini perlahan membentuk cara pandang seorang anak laki-laki terhadap emosinya.
Mereka belajar bahwa marah dianggap wajar, tetapi sedih, takut, atau kecewa seolah tidak boleh ditunjukkan. Akibatnya, saat dewasa banyak pria kesulitan mengenali sekaligus mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Bukan karena mereka tidak memiliki emosi, melainkan karena mereka terbiasa menyimpannya sendiri.
Mengapa Pria Lebih Sering Memendam Perasaan?
Ada beberapa alasan mengapa pria cenderung memilih diam.
Pertama, mereka takut dianggap lemah jika terlalu terbuka mengenai perasaan. Masih banyak anggapan bahwa pria harus selalu tegar dalam segala situasi.
Kedua, sebagian pria khawatir menjadi beban bagi orang lain. Mereka merasa masalah yang dihadapi adalah tanggung jawab pribadi sehingga harus diselesaikan sendiri.
Ketiga, tidak semua pria memiliki lingkungan yang membuat mereka merasa aman untuk bercerita. Ketika pengalaman sebelumnya dipenuhi dengan penilaian atau ejekan, mereka akan semakin enggan membuka diri.
Selain itu, ada pula pria yang memang tidak terbiasa memberi nama pada emosinya. Mereka hanya merasa “tidak enak” tanpa benar-benar memahami apakah yang dirasakan adalah sedih, kecewa, stres, atau cemas.

Dampak Memendam Emosi Terlalu Lama
Sesekali menyimpan perasaan mungkin bukan masalah. Namun jika dilakukan terus-menerus, dampaknya bisa cukup serius.
Emosi yang tidak tersalurkan dapat berubah menjadi stres berkepanjangan, mudah marah, sulit tidur, kehilangan motivasi, hingga menurunnya kesehatan fisik. Dalam hubungan, pasangan juga bisa merasa dijauhkan karena sulit mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tidak sedikit pria yang akhirnya meluapkan emosi dalam bentuk kemarahan, perilaku impulsif, atau menarik diri dari lingkungan sosial. Padahal akar masalahnya bukan kemarahan, melainkan emosi lain yang tidak pernah diproses dengan baik.
Mengungkapkan Emosi Bukan Berarti Lemah
Masih ada anggapan bahwa pria yang menangis atau bercerita tentang kesulitannya adalah pria yang rapuh. Faktanya, mengakui perasaan justru membutuhkan keberanian.
Mengenali emosi membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih baik, mengurangi tekanan mental, serta membangun hubungan yang lebih sehat. Kemampuan ini juga membuat seseorang lebih mampu mengelola konflik tanpa harus meluapkannya dalam bentuk kemarahan.
Menjadi kuat bukan berarti memikul semua beban sendirian, melainkan mengetahui kapan harus meminta bantuan.
Cara Pria Mulai Belajar Mengekspresikan Emosi
Belajar terbuka tidak harus dilakukan sekaligus. Mulailah dengan langkah kecil.
Cobalah mengenali apa yang sedang dirasakan setiap hari, misalnya melalui jurnal atau refleksi singkat. Temukan satu atau dua orang yang benar-benar dipercaya untuk diajak berbicara. Jangan ragu mencari bantuan profesional jika beban terasa semakin berat dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Yang tidak kalah penting, berikan ruang bagi diri sendiri untuk merasakan semua emosi, bukan hanya kemarahan. Sedih, takut, kecewa, dan cemas adalah bagian alami dari pengalaman manusia, termasuk bagi seorang pria.

Menjadi Pria yang Sehat Secara Emosional
Perubahan cara pandang tentang maskulinitas mulai berkembang. Kini semakin banyak pria yang berani membicarakan kesehatan mental dan pentingnya menjaga keseimbangan emosi.
Hal ini bukan berarti mereka menjadi kurang maskulin. Sebaliknya, kemampuan memahami dan mengelola emosi menunjukkan kedewasaan, empati, serta tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
Pada akhirnya, ketika seorang pria berkata, “Aku gapapa,” mungkin yang paling dibutuhkan bukan nasihat panjang, melainkan ruang yang aman untuk berkata jujur tentang apa yang sebenarnya sedang ia rasakan. Karena menjadi kuat tidak selalu berarti mampu menahan semuanya sendirian.
Ditulis oleh Giovani Anggasta
Lets connect with me on ig @giovaniianggasta

