“Nilai seorang ayah tidak diukur dari seberapa sering ia berangkat ke kantor, tetapi dari seberapa besar kehadirannya bagi keluarga.”
ketika peran ayah mulai berubah
Selama bertahun-tahun, masyarakat Indonesia mengenal satu gambaran yang dianggap “ideal”: ayah bekerja mencari nafkah, sementara ibu mengurus rumah dan anak. Pola ini memang masih banyak dijumpai, tetapi bukan lagi satu-satunya bentuk keluarga yang ada.
Kini, semakin banyak pasangan yang membagi peran berdasarkan kebutuhan, kondisi ekonomi, maupun kesepakatan bersama. Di beberapa keluarga, justru ayahlah yang memilih menjadi pengasuh utama di rumah, sementara ibu menjadi pencari nafkah utama.
Pilihan ini melahirkan sosok yang dikenal sebagai bapak rumah tangga atau stay-at-home dad. Meski jumlahnya belum sebanyak di negara lain, keberadaan mereka semakin terlihat di Indonesia. Sayangnya, pilihan ini masih sering dipandang sebagai sesuatu yang tidak lazim, bahkan dianggap sebagai kegagalan seorang pria.
Padahal, menjadi bapak rumah tangga bukanlah tanda menyerah, melainkan salah satu bentuk tanggung jawab terhadap keluarga.
Apa Itu Bapak Rumah Tangga?
Bapak rumah tangga adalah ayah yang mengambil peran utama dalam mengurus kebutuhan rumah tangga dan pengasuhan anak. Tugasnya bisa meliputi menyiapkan makanan, mengantar anak ke sekolah, membantu pekerjaan rumah, menemani belajar, hingga mengatur berbagai kebutuhan keluarga sehari-hari.
Hal ini tidak selalu berarti sang ayah tidak memiliki penghasilan. Ada yang bekerja secara remote, menjadi pekerja lepas, menjalankan usaha dari rumah, atau memang memutuskan untuk berhenti bekerja sementara demi fokus mengasuh anak.
Intinya, pembagian peran ini merupakan hasil keputusan bersama yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.
Mengapa Ada Ayah yang Memilih Menjadi Bapak Rumah Tangga?
Setiap keluarga memiliki alasan yang berbeda.
Ada pasangan yang mempertimbangkan bahwa penghasilan istri lebih tinggi sehingga secara finansial lebih menguntungkan jika ibu tetap bekerja. Ada pula yang memilih agar salah satu orang tua dapat mendampingi tumbuh kembang anak pada masa-masa awal kehidupannya.
Selain itu, faktor kesehatan, fleksibilitas pekerjaan, biaya pengasuhan anak yang tinggi, hingga keinginan membangun hubungan yang lebih dekat dengan keluarga juga menjadi pertimbangan.
Artinya, keputusan menjadi bapak rumah tangga bukanlah pilihan yang muncul karena kemalasan, melainkan hasil dari berbagai pertimbangan yang matang.

Stigma yang Masih Melekat
Meski mulai dikenal, bapak rumah tangga masih menghadapi berbagai stigma.
Tidak sedikit yang mendapat komentar seperti, “Memangnya istrinya yang menafkahi?”, “Kok cuma di rumah?”, atau “Masa laki-laki tidak bekerja?”
Pandangan seperti ini lahir dari anggapan bahwa identitas seorang pria hanya diukur dari kemampuannya mencari nafkah.
Padahal, pekerjaan domestik dan pengasuhan anak merupakan pekerjaan yang membutuhkan waktu, tenaga, kesabaran, serta keterampilan yang tidak sedikit. Sayangnya, karena tidak menghasilkan gaji secara langsung, pekerjaan tersebut sering kali dianggap kurang bernilai.
Menjadi Ayah yang Hadir adalah Investasi bagi Anak
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam kehidupan anak memberikan banyak manfaat.
Anak yang memiliki hubungan dekat dengan ayah cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih baik, kemampuan sosial yang lebih berkembang, serta kondisi emosional yang lebih stabil. Kehadiran ayah juga membantu anak belajar berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Karena itu, waktu yang dihabiskan seorang bapak rumah tangga bersama anak bukanlah waktu yang “terbuang”, melainkan investasi jangka panjang bagi perkembangan mereka.
Tantangan yang Dihadapi Bapak Rumah Tangga
Menjadi bapak rumah tangga tentu bukan tanpa tantangan.
Selain menghadapi penilaian dari lingkungan, sebagian ayah juga mengalami konflik batin karena merasa tidak memenuhi ekspektasi masyarakat. Mereka bisa merasa kehilangan identitas sebagai pencari nafkah utama atau kesulitan menjelaskan pilihan hidupnya kepada orang lain.
Di sisi lain, pekerjaan rumah dan pengasuhan anak sering kali berlangsung tanpa jeda. Mengurus jadwal sekolah, memasak, membersihkan rumah, hingga menemani anak saat sakit membutuhkan energi fisik dan mental yang besar.
Karena itu, bapak rumah tangga juga membutuhkan dukungan, apresiasi, dan kesempatan untuk menjaga kesehatan mentalnya.

Kunci Utamanya adalah Kerja Sama dengan Pasangan
Tidak ada pembagian peran yang paling benar dalam sebuah keluarga.
Yang terpenting adalah adanya komunikasi, saling menghargai, dan kesepakatan antara suami dan istri. Ketika kedua belah pihak memahami tanggung jawab masing-masing, keluarga dapat berjalan dengan harmonis meskipun perannya berbeda dari kebiasaan masyarakat.
Alih-alih memperdebatkan siapa yang bekerja di luar rumah dan siapa yang mengurus rumah, fokus utama seharusnya adalah apakah kebutuhan emosional, finansial, dan pengasuhan dalam keluarga dapat terpenuhi dengan baik.
Menjadi bapak rumah tangga bukanlah simbol kegagalan seorang pria. Sebaliknya, pilihan tersebut dapat menjadi bentuk komitmen untuk hadir lebih dekat dalam kehidupan anak dan mendukung keluarga dengan cara yang berbeda.
Sudah saatnya masyarakat melihat peran ayah tidak hanya dari besarnya penghasilan, tetapi juga dari keterlibatan, kasih sayang, dan tanggung jawab yang ia berikan setiap hari.
Pada akhirnya, keluarga yang sehat bukan ditentukan oleh siapa yang bekerja di luar rumah, melainkan oleh kemampuan setiap anggotanya untuk saling mendukung dan tumbuh bersama. Ketika keputusan menjadi bapak rumah tangga lahir dari kesepakatan dan tujuan yang sama, maka itu bukanlah sebuah kegagalan, melainkan pilihan yang layak dihormati.
Ditulis oleh Giovani Anggasta
Lets connect with me on ig @giovaniianggasta

