Gelak tawa adalah bahasa universal, mulai dari Srimulat, Warkop DKI, hingga stand up comedy yang muncul satu dekade terakhir ini. Komedi selalu punya tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia, semacam “pelarian” dikala penat atau bahkan saat masyarakat yang diliputi kegelisahan karena ekonomi maupun politik. Humor tetap menjadi cara paling sederhana untuk bertahan.
Di balik panggung yang penuh gelak tawa, ada cerita yang jarang terungkap tentang bagaimana sebagian komedian justru memikul beban sebagai pencari nafkah utama keluarga dan ketika sosok itu adalah perempuan.
KomediAN PEREMPUAN yang Tak Pernah Mati
Dunia seni komedi Indonesia tidak pernah kehabisan panggung, dari era Srimulat, Bagito, Patrio, hingga kehadiran stand up comedy di televisi pada awal 2010-an, humor Indonesia Kini (IHIK), pernah mengatakan bahwa tren komedi terus berubah mengikuti perkembangan teknologi media. Warkop DKI dulu melesat lewat radio dan film, sementara kini media sosial menjadi ruang baru yang melahirkan komedian-komedian digital.
Sekretaris Jenderal Persatuan Seniman Komedian Indonesia (PaSKI), Yasser Fikry menambahkan bahwa televisi masih memegang peran penting dalam mengangkat nama komedian, Ia pun mengakui pergeseran besar telah terjadi, Komedi kini tak lagi eksklusif milik panggung dan layar kaca. Instagram, Tiktok hingga Youtube memungkinkan siapa pun menyalurkan keresahan dan humornya. “Komedi nggak akan pernah mati, karena orang-orang tetap butuh itu sebagai vitamin,” Kata Yaser.
Mulai lawakan tradisional seperti Lenong, Ketoprak dan Ludruk hingga stand up yang sering kali mengangkat isu politik atau isu-isu yang ada di masyarakat.
KOMEDIAN Perempuan dalam INDUSTRI INDONESIA
Jika dulu pelawak identik dengan laki-laki, kini wajah perempuan semakin sering muncul di panggung humor Indonesia. Nama-nama seperti Tika Panggabean, Kiky Saputri, Arafah Rianti, hingga Mpok Alpa dan Nunung, menunjukkan bahwa perempuan mampu bersaing, bahkan menciptakan warna tersendiri.

Tika Panggabean pernah mengatakan, “Lucu itu tidak mengenal jenis kelamin, selama kita bisa menyampaikan humor dengan baik dan menghibur, tidak ada yang salah dengan perempuan menjadi pelawak.” Pernyataan itu menegaskan bahwa dunia komedi bukan milik satu gender saja.
Sementara Kiky Saputri, yang dikenal lewat gaya roasting-nya, memandang humor sebagai alat pemberdayaan. Melalui komedi, ia bisa menyampaikan pesan-pesan sosial dengan cara yang ringan, namun tetap kena. Adapun Arafah Rianti, jebolan ajang pencarian bakat, menyoroti stereotip bahwa perempuan dianggap tidak bisa selucu laki-laki. “Itu pandangan yang harus diubah,” katanya.
Komedian Perempuan, memang masih menghadapi tantangan, namun kehadiran mereka mencerminkan pergeseran sosial yang lebih luas. Menurut sosiolog UI, Dr. Nani Suryani, semakin banyaknya pelawak perempuan adalah tanda bahwa masyarakat mulai menerima keberagaman dalam humor. “Komedi adalah cerminan masyarakat, ketika kita melihat lebih banyak pelawak perempuan, itu berarti ada kemajuan menuju kesetaraan gender, “ujarnya.
Tentunya di balik tawa yang di bangun oleh para komedian perempuan, masih ada realitas yang lebih berat yaitu kerap menjadi breadwinner, pencari nafkah utama dalam keluarga. Fakta bahwa banyak perempuan Indonesia yang mengambil peran ini dan data menunjukkan dari 38 provinsi di Indonesia, 23 provinsi masih memiliki persentase female breadwinner di bawah rata-rata nasional. Artinya, perempuan pencari nafkah utama masih dianggap pengecualian, meski jumlah mereka terus bertambah.
Tantangan mereka berlapis, di satu sisi harus mencari nafkah tetapi juga tetap menjalankan peran domestik, mengurus anak, memasak, bahkan merawat lansia. Dalam dunia hiburan, sosok seperti Nunung dan Mpok Alpa adalah contoh nyata, mereka membuat jutaan orang tertawa, namun kehidupan pribadi mereka diwarnai perjuangan berat sebagai tulang punggung keluarga.
Nunung & Mpok Alpa: Tawa KOMEDIAN PEREMPUAN Yang Menutupi Luka
Siapa yang tidak kenal Nunung Srimulat? Gaya kocaknya yang khas membuatnya dicintai lintas generasi. Sedikit yang tahu bahwa dibalik kelucuannya, Nunung memikul beban besar yang harus membiayai hingga 50 anggota keluarganya.
Mendapat amanah dari alm sang ayah yang menitipkan saudara-saudaranya. Ia pun merasa “menyanggupi” amanah tersebut kala itu. “Mungkin saya terlena merasa satu keluarga yang paling diberi rezeki,” katanya.
Namun, roda kehidupan berputar, saat kondisi kesehatan menurun dari kanker, gerd, insomnia hingga panic attack. Di sisi lain Nunung harus menafkahi keluarganya, bahkan pernah di satu waktu Nunung menunda untuk membeli obat dan memilih memprioritaskan keluarganya.
Berbeda dari Nunung yang lahir di panggung Srimulat, kisah Mpok berawal dari penyanyi hajatan di tempat tinggalnya. Dengan gaya bicara blak-blakan dan logat Betawi kental, Mpok Alpa menghibur masyarakat sekitar.
Kariernya berubah drastis pada 2018, ketika sebuah video sederhana berisi curhatan ingin diajak ke minimarket viral di media sosial yang akhirnya memberinya peluang untuk tampil di sebuah acara tv nasional. Setelah tampil di tv tersebut, Mpok Alpa semakin dikenal banyak oleh masyarakat, keahlian dalam tarik suara dan komedi dengan cara berbicara betawi kental menjadikannya selalu eksis dengan berbagai program di televisi.
Di sisi lain, Mpok Alpa atau Nina Carolina, harus menjadi mencari nafkah utama keluarnya, namun tidak lepas dari tanggung jawab menjadi seorang istri dan ibu pasalnya ia tetap mengurus rumah tangga. Kesuksesan di dunia entertainment tidak mengubah gaya hidup sederhana yang sudah ia jalani sejak awal.

SEBUAH EMPATI UNTUK KOMEDIAN PEREMPUAN
Kehidupan Nunung dan Mpok Alpa, menunjukkan wajah lain dari perannya sebagai breadwinner perempuan. Mereka tetap setia dengan keluarga, dan menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, seorang istri, ibu dan saudara dengan peran domestiknya.
Dalam banyak kasus, para perempuan yang menjadi breadwinner seolah tidak punya pilihan, faktor budaya turut memperkuat peran ganda ini, meski sudah menjadi tulang punggung ekonomi, mereka masih dianggap wajib mengurus rumah tangga, hasilnya tekanan ganda yang melelahkan.
Di Indonesia, realitas ini bukan hal asing mulai dari pekerja pabrik, pedagang pasar, hingga artis hiburan salah satunya menjadi pelawak banyak perempuan yang berdiri sebagai penopang ekonomi keluarga.
Nunung dan Mpok Alpa hanya dua contoh dari ribuan perempuan Indonesia yang berjuang sebagai breadwinner, mereka menunjukkan bahwa di balik panggung hiburan yang dipenuhi gelak tawa ada perjuangan mereka sebagai seorang breadwinner untuk keluarganya.

